Surga, Kekuatan Utama Untuk Istiqamah

Berbicara tentang surga, tahukah kita bahwa Allah Subhanahu wata’ala  telah menyebut kata ‘surga’ sebanyak lebih dari 120 kali dalam Al Quran. Mengapa Allah Subhanahu wata’ala mengatakan demikian? Tujuannya adalah untuk menanamkan rasa harap (raja’) dan optimis (tafa’ul) bahwasannya muara dari segala keletihan kita dalam beribadah adalah untuk mendapatkan surga. Tahukah kita bahwasannya Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah memuji dunia? Melainkan memuji surga dengan segala keindahan dan kenikmatannya yang sempurna. Pernahkah kita membayangkan sesempurna apakah surga sehingga Allah Subhanahu wata’ala Dzat yang Maha Sempurna mengungkapkan keadaan surga sedemikian indah? Mari kita memahami dari sebuah analogi berikut.

Jika seandainya ada seorang kuli bangunan mengatakan bahwasannya ‘makanan ini’ enak maka kita jangan mudah percaya karena kriteria ‘makanan enak’ menurut mereka adalah yang penting makanan itu murah dan mengenyangkan. Namun jika seandainya ada seorang koki profesional yang mengatakan ‘makanan ini enak’ maka kita boleh mempercayainya karena yang mengungkapkan adalah seseorang yang ahli dibidang kuliner. Semakin tinggi background dan kualitas seseorang maka akan semakin tinggi pula kriteria ‘bagus dan indah’-nya suatu hal menurut orang tersebut. Jika Allah Subhanahu wata’ala saja Dzat Yang Maha Sempurna mengatakan bahwa surga itu indah dan sempurna maka yakinlah sesungguhnya semua kalamNya hukumnya adalah mutlaq dan tidak ada yang relatif. Sehingga kita sudah seharusnya meyakini bahwa sesungguhnya surga itu indah dengan segala kesempurnaannya.

Maka sejatinya demikian itu menjadikan kekuatan bagi orang beriman jika seandainya kita paham bahwa muara dari perjalanan kita itu menuju kepada surga maka ujian-ujian yang berat itu terasa ringan ketika seseorang mengerti dibalik setiap ujian dan kesulitan yang dia dapatkan akan ada ‘surga’. Karena sesungguhnya mengingat surga adalah sebuah kekuatan (energi) adapun mengingat dunia adalah sebuah kelelahan dan keletihan. Jika memikirkan surga adalah kekuatan maka kunci seorang yang beriman adalah ketika hati mereka hidup dengan bayang-bayang surga yang hidup di dalam hati dan jiwa mereka. Maka Allah Subhanahu wata’ala mengabadikan bagaimana orang-orang shalih itu kuat dalam menghadapi setiap ujian yang mereka hadapi yaitu karena mereka berhasil menciptakan lentera di dalam hati mereka untuk membayangkan surga. Sebagaimana kisah Ibunda Asiyah, beliau adalah istri seorang raja yang paling kejam yaitu Fir’aun. Tetapi ternyata beliau kuat ketika Allah uji beliau dengan suami yang senang memenggal kepala setiap bayi perempuan hingga Allah abadikan kisah tersebut dalam sebuah firmanNya, yang artinya “.. ya Allah bangunkan sebuah rumah untukku di surga.” Berkat keinginan besar beliau akan surga itulah yang menjadikannya kuat dalam menapaki setiap ujian yang didapat.

Tahukah kita bahwa diantara cara malaikat dalam menguatkan orang-orang beriman yaitu sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala jelaskan dalam firmanNya,”… janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.” Demikianlah yang membuktikan bahwasannya mengingat surga adalah kekuatan. Karena pada umumnya seseorang akan merasa sulit istiqamah bangun tengah malam untuk shalat malam, menutup aurat secara sempurna dan ibadah yang lainnya jika ia tidak mengingat tentang surga. Semakin kuat seseorang mengingat surga maka semakin rendah merasakan dunia dan sebaliknya semakin seseorang memikirkan dunia maka semakin rendah nilai surga dimata orang tersebut.

Kita sesungguhnya hidup dalam zaman dimana materialisme dibangun di atas pernak pernik dunia yang dibuat sangat menarik. Sehingga manusia menjadi panjang angan-angan bahwa seakan-akan dia akan hidup selamanya di dunia. Dan hal itu adalah pangkal dari kemaksiatan. Dengan demikian ada tiga kaidah penting yang harus diahami agar tidak salah dalam memahami tentang surga.

  1. Surga identik dengan ilmu sebagaimana ikan identik dengan air. Siapapun yang memisahkan ikan dengan air maka ikan tersebut akan mati. Begitupula surga, siapapun yang memisahkan surga dengan ilmu (Al Quran dan Hadits) maka sesungguhnya ia tidak akan pernah mendapatkan surga. Mayoritas orang zaman sekarang adalah berpikir praktis namun keliru bahwasannya mereka mengira bahwa surga bisa ditebus dengan tanpa mencari ilmu. Karena untuk memperoleh kepahaman sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala ridhai maka tidak mungkin kita memperoleh surga itu tanpa merintis melalui ilmu yang kita kaji dari Al Quran dan Hadits.
  2. Rasul mensifati bahwasannya surga itu lebih dekat daripada tali sandal. Maknanya bahwa seseorang tidak boleh meremehkan suatu amalan karena bisa jadi ada amalan tertentu yang seseorang remehkan namun justru amalan itulah yang bisa jadi menjadikan seseorang tersebut masuk ke dalam surga tanpa ia sadari. RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan bahwa “ janganlah salah seorang diantara kalian meremehkan amalan walaupun hanya bertemu dengan saudara kalian dengan wajah tersenyum”. Kesimpulannya bahwa seseorang harus senantiasa bersemangat dalam melakukan segala amalan walaupun kecil karena bisajadi amalan tersebut yang mampu memasukannya ke dalam surga. Kisah hikmah dari seorang sahabat Rasul,Bilal bin Rabah, seorang ahli ibadah dan ahli amal. Maka Rasulullah heran kemudian bertanya kepada Bilal tentang suatu amal yang mampu memasukkannya ke surga. Beliau menjawab, “Tidak ada wahai Rasulullah, melainkan saya selalu berwudhu setiap batal kemudian shalat dua raka’at”. Inilah salah satu amalan kecil yang Allah balas dengan surga.
  3. Rasulullah bersabda bahwa “ tidak ada diantara kalian yang akan masuk surga karena amal”. Sahabat bertanya, “Apakah engkau juga masuk surga bukan karena amal ya rasulullah?”.“Aku pun masuk surga bukan karena amalku melainkan karena rahmat yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadaku dan keutamaanNya yang Allah Subhanahu wata’ala  berikan kepadaku”. Maknanya bahwa sebanyak apapun amalan seseorang maka tidak akan mampu ditukar dengan surga. Dalam sebuah haditsyang diriwayatkan oleh imam Ahmad, Allah berfirman kepada salah seorang yang sudah diberikan rahmat oleh Allah untuk masuk surga. “Masuklah surga dengan rahmatKu” kemudian orang itu berkata “tidak ya Allah, aku masuk surga karena amalanku”. Allah Subhanahu wata’ala pun memerintahkan kepada malalikat untuk menghitung amalan orang yang ahli ibadah tersebut. “Hitunglah amalannya untuk membayar kenikmatan yang pernah Aku berikan kepadanya, jika ada sisa amalannya maka gunakan untuk masuk surga yang aku rahmatkan kepadanya”. Malaikat pun berkata, “dari semua amalannya yang telah aku hitung ya Allah, belum mampu membayar kenikmatan mata sebelahnya. Belum lagi kenikmatan yang lain yang Engkau berikan”. Kemudian seorang tersebut tertunduk wajahnya. Kemudian Allah berfirman “Masuklah ke dalam surga karena rahmatMu”. “Iya ya Allah, aku masuk surga karena rahmatmu” seorang tersebut menjawab.

Demikianlah perlu dipahami bahwa bukan berarti amalan dan rahmat itu tidak ada hubungannya. Amal shalih adalah salah satu perkara untuk memancing rahmatNya Allah.Karena rahmat Allah senantiasa bersama orang yang beramal.

Mengapa harus belajar ilmu agama? Supaya dapat rahmat AllahSubhanahu wata’ala

Mengapa harus sabar ketika didzalimi dan dicaci maki orang lain? Karena kita mengharap rahmat AllahSubhanahu wata’ala

Mengapa kita  bersedekah? Karena disitulah terdapat rahmat AllahSubhanahu wata’ala

Yang paling penting adalah bagaimana akhir kehidupan kita muaranya adalah surga. Karena mengingat surga adalah kekuatan, adapun mengingat dunia adalah keletihan dan kelelahan. Jika terkadang istiqamah kita menurun bersegeralah mengingat surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Wallahu a’lam bishshawab(Pujiana/Staf Pengajar PPTQ SahabatQu)

Leave a Reply