Menjemput Khusnul Khotimah

Selepas maghrib seorang istri bertanya kepada suaminya, “Pak, Bapak tau kenapa saya sering baca surat Al Mulk?”, mendengar pertanyaan itu suaminya hanya mengira itu sebagai pertanyaan iseng atau bercanda sehingga si bapak tidak begitu menanggapinya.

Sang bapak belum sempat menjawab, ketika pertanyaan itu langsung dijawab sendiri oleh istrinya, “agar surat Al mulk ini jadi teman ibu pak di kuburan nanti”
Sambil tertawa si bapak pun menjawab, kalau surat Al Mulk mah bapak sudah hafal dari dulu, Bu.”

Tidak ada yang mengira bahwa itu adalah percakapan terakhir antara sang bapak dan ibu itu.
Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba sang ibu terdengar sedikit berdeham dan batuk disusul dengan sesak nafas, hingga akhirnya beliau pun merasakan lemas yang luar biasa hingga tak sanggup untuk berdiri. Sang suami segera menuntun dan mencari pertolongan ke tetangga sekitat agar segera dapat dibawa ke rumah sakit. Tapi saat itu sang ibu masih sempat menolak. Permintaan sang ibu dengan sangat kukuhnya, hanya agar bisa sholat Isya terlebih dahulu walaupun keadaannya memang sudah mengkhawatirkan.

Adzan Isya pun berkumandang, seketika itu sang ibu berusaha sekuat mungkin untuk bersegera shalat Isya meski harus dibantu suaminya agar kuat untuk duduk.

Selepas isya sang ibu segera dipapah ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Namun qodarullah sebelum sampai rumah sakit, sang ibu telah berpulang ke rahmatullah tanpa didampingi suaminya karena berbeda kendara

Ibu itu bernama Suratminah, ibu dari ananda Muhammad Ikhsan, santri kelas 9 PPTQ SahabatQu. Tak ada yang mengira memang apalagi menyangka, beliau akan dipanggil malam itu, padahal pada siangnya beliau masih sangat sehat dan mengajar seperti biasanya.

Tapi itulah takdir Allah akan maut, tidak ada yang tahu. Ibu Suratminah sebelum akhir hidupnya sangat tekun dalam beribadah. Setiap malam hampir tidak lupa membaca Al Mulk, shalat malam, tilawah di tengah malam walaupun masih dalam tahap belajar membaca Al-Quran dan mudah sekali beliau dalam bersedekah.

Kita memang tidak tahu ajal kita kapan akan tiba, tapi kita bisa berikhtiar dan bersiap sebaik mungkin dalam menjemput khusnul khotimah.

Seperti yang dinasehatkan Ustad Syatori, “Seperti apa keadaan maut kita esok adalah seperti apa keadaaan yang paling kita sukai semasa hidup kita kini.”

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari ibu Suratminah, karena sebaik-baik nasihat adalah maut. (Johan/PPTQSahabatQu)

Leave a Reply