Masihkah perlu ada Guru bagi kita?

Miris. Masih hangat di tengah-tengah kita pemberitaan seorang bapak guru yang masih muda bernama Budi Cahyanto; seorang guru musik honorer di sebuah sekolah menengah atas negeri di kota Sampang, Madura; yang harus tergolek tak berdaya hingga akhirnya harus merenggang nyawa di tangan muridnya sendiri.

Murid yang sepantasnya menghormati dan menghargai peran serta seorang guru yang turut andil dalam membesarkan sosoknya kelak, kini sudah mulai beralih orientasi. Hari ini sepertinya guru yang harus menghormati murid-muridnya. Ditegur sedikit, gurunya dilaporkan. Dicubit sedikit lantaran sang siswa sudah begitu susahnya diarahkan, gurunya dipidanakan. Kasus guru Budi ini bukan yang pertamakali. Sudah banyak contoh riil yang kita saksikan di tengah-tengah kita. Dan yang semakin membuat para pendidik mengelus dada ialah, banyak dari para orangtua yang justru membela kesalahan anak-anaknya.

Di dalam Islam persoalan adab menempati posisi yang utama dalam proses tarbiyah seorang anak. Ulama salaf sangat menekankan pengajaran adab dan akhlak sebagai pondasi utama sebelum dijarkan keilmuan lainnya. Di ranah pondok pesantren, adab dan akhlak merupakan ciri khas yang wajib dimiliki setiap santri. Setiap santri (murid.red)

Leave a Reply